Menjajal Virtual Run di Indosat Ooredoo Run 

IdeaKita.com – Meski namanya virtual run, tetap saja kita tetap harus lari layaknya di sebuah race lari. Tetap berkeringat dan ngos-ngosan ketika kita harus mengejar pace terbaik. Jadi yang berkeringat bukan hanya jari.

Lalu apa yang beda? Sebenarnya  virtual run dengan lari biasanya itu hanya “beti” alias beda tipis. Di virtual run kita bisa bebas menentukan kapan lari. Sebagai bukti, aktivitas lari kamu harus tercatat di aplikasi lari seperti Endomondo, Stava, Nike+ dll. Nah, poin terakhir ini yang penting dari virtual run.

Indosat Ooredoo Run menjadi salah virtual run yang pertama kali saya temui sejak saya suka lari. Awalnya sempat ragu saat mau register karena untuk vurtyal run harus lari 50 K yang sudah masuk kategori lari ultra. Hmm jangankan lari ultra, medali FM saja belum punya koleksinya.

Namun ketika membaca syarat dan ketentuannya bahwa jarak 50 K itu bisa dikumpulkan selama sebulan, ada keberanian untuk mendaftarkan diri. Ya,  untuk mengumpulkan jarak 50 K ini, panitia memberi waktu selama sebulan.

Ketika mendaftar dan membayar di awal November saya baru nyadar, deadline ternyata 19 November. Artinya sebelum tanggal 19 November saya harus bisa mengumpulkan 50 K. Ah kecil… pikir saya waktu itu. Toh jika dihitung mundur, target sehari lari 3 K sudah lebih dari cukup untuk menuntaskan kewajiban lari 50 K. Itu teori di atas kertas.

Nyatanya, dari catatan Endomondo, salah satu aplikasi pencatat lari dan sepeda yang saya pakai, sejak mendaftar Virtual Run Indosat Ooredoo 4 November lalu, saya baru lari 11 November 2017 bersama teman-teman di KG Pelari[an] menjajal rute Binloop, alias Bintaro Loop. Karena ada urusan, saya berpisah di tengah race. Hari itu di jarak yang tercatat 8,3 KM. Ya, lumayan untuk modal pertama.

Sorenya baru saya “laporkan” ke website resmi race lari ini, di www.indosatooredo.race.id. Waduh, ternyata browser Safari di macbook saya tidak bisa meloading aplikasi “pelaporan lari” yang ditempel di www.indosatooredo.race.id. Akhirnya saya pindah ke perangkat lain.

Setelah berhasil membuka aplikasi ini, yang pertama harus dilakukan adalah registrasi dulu. Saat regristasi saya wajib melakukan pencatatan identitas. Ini diperlukan untuk pengiriman jersey dan medali setelah semua laporan aktivitas lari kamu memenuhi syarat dan lolos verifikasi. Selanjutnya kamu tinggal lari, rekam di aplikasi, dan upload jarak lari kamu beserta capture data lari di aplikasi.

Program di website tersebut yang akan mengkalkulasi berapa total jarak lari kamu. Setelah total 50 K, kamu tinggal menunggu result dan kiriman sertifikasi dari panitia. Bukti ini yang wajib kamu unggah di instagram sebagai salah satu tahapan yang harus kamu lakukan sebelum pengiriman jersey dan medali.

Saat artikel ini ditulis, saya baru sampai tahapan menunggu result dari panitia. Bisa jadi saat ini data-data saya lagi diferivikasi apakah memenuhi syarat mendapat medali atau tidak.

Setelah menjajal Virtual Run Indosaat Ooredoo Run garapan IdeaRun ini saya punya sedikit catatan yang mungkin bisa menjadi bekal awal ketika suatu hari nanti ikut virtual run baik yang digelar IdeaRun atau race management lain.

1. Melatih Kejujuran

Saya inget ketika dulu sekali setelah menginstal Endomondo untuk mencatat kegiatan bersepeda pernah beberapa kali menerima tantangan. Misalnya, adu cepat menyelesaikan 500 km. Saat saya bersepeda dan merekam di aplikasi tersebut, secara otomatis akan menambah jumlah km di challenge tersebut sekaligus menempatkan saya di posisi berapa. Namun saat akhir pekan, terjadi perubahan “klasemen”. Mendadak seorang temen melejit ke urutan papan atas, karena ada penambahan “gowes” puluhan kilometer. Ternyata setelah dirunut di peta rute gowesnya, tidak masuk akal karena selain kecepatan melebihi rata-rata kecepatan bersepeda, juga rute yang digunakan jalan tol.

Virtual run melatih kejujuran. Saya bisa saja, bersepeda tapi saya catat sebagai kegiatan lari. Toh tinggal mengubah dengan jari ikon sepeda ke lari di aplikasi dan agar rekaman data tak terlalu mencolok, saya bisa bersepeda dengan kecepatan 10 km/jam. Jangankan di virtual run, saat race lari biasa saja banyak kok peluang untuk curang. Mulai dari “melipat” jarak, alias cari jalan pintas sampai nyaru sebagai penumpang ojek.  Tapi peluang curang di virtual run lebih besar. Itu sebabnya, virtual run bisa melatih kejujuran kamu. Ya, untuk apa punya koleksi banyak mendali tapi prosesnya membohongi diri sendiri. Apa enaknya coba?

2. Jangan Remehkan Perangkat dan Aplikasi Lari

Virtual run butuh bukti rekaman lari. Makanya, jangan sepelekan perangkat dan aplikasi lari. Kerap terjadi, saat kita merasa sudah merekan kegiatan lari, tiba-tiba setelah beberapa kilo lari, hape mati atau aplikasi terhenti. Keringat yang mulai bercucuran seakan sia-sia lantaran aplikasi tak merekam kegiatan kita. Jadi siapkan betul perangkat dan aplikasi kamu.

Dari pengalaman sih, memakai sport watch yang mampu merekam kegiatan lari sekaligus bisa terkoneksi ke aplikasi lari, lebih aman. Data yang terekam di jam tersebut akan terkoneksi dengan aplikasi lari ketika antara jam tangan dan hape yang terinstal aplikasi lari itu terhubung bluetooth.

3. Virtual Run itu Latihan

Dengan ikut virtual run, kita dipicu untuk terus berlari karena ada target kilometer yang harus dicapai. Cara ini justru jadi hal yang ampuh untuk latihan menjelang race lari.