Alasan Kenapa Kita Wajib Punya Kemampuan Emergency Response

IdeaKita.com – Henti Jantung. Itu kesimpulan sementara penyebab kematian, Andi Nursaiful (48),  peserta lomba lari Bromo Tengger Semeru (BTS) Ultra 100, Sabtu (4/11) silam di KM 18, tepatnya di single trek  Ranupane.

Kesimpulan itu disampaikan oleh dr. Yotin Bayu Meriani, tim dokter BTS Ultra 100 seperi dikutip dari laman detik.com. Dr Yotin saat ini sedang berjaga di pos 21 langsung menuju km 18 begitu mendapat kabar dari seorang peserta.

“Saat sampai di lokasi, korban sudah meninggal. Kemungkinan dia mengalami henti jantung mendadak.” Penyebab henti jantung itu, lanjut Yopt, bisa karena sumbatan kolesterol atau gula darah.”

Kasus kematian mendadak saat olahraga, baik saat bersepeda, lari atau olahraga lainnya bukan kali ini saja terjadi. Kabar duka yang paling baru datang dari Dumai, Riau. Haji Wahyu, Ketua Harian ISSI Dumai dikabarkan meninggal saat bersepeda pada hari Sabtu (11/11) pagi. Menurut cerita rekan sepergowesan Haji Wahyu, Untung Efendi kepada IdeaKita.com, tanpa sepengetahuan sang istri, pagi itu Haji Wahyu menyusul teman-temannya yang sedang gowes.

Setelah sempat bersamalam-salaman, mendadak pria ini langsung jatuh dan tak sadarkan diri. Belum sempat mendapat pertolongan medis, Haji Wahyu meninggal di tempat kejadian.

Sejak dirawat di RS beberapa bulan lalu, sebenarnya pria ini tak boleh olahraga berat dulu, termasuk bersepeda. “Beliau divonis menderita jantung koroner. Sempat dirawat di RSUD Dumai selama seminggu. Dokter pun tak membolehkan dia olahraga berat dulu. Mungkin saking cintanya pada olahraga bersepeda, beliau  curi-curi kesempatan gowes saat istrinya tak tahu.”

Dari foto yang diunggah Untung Efendi, pegawai Disdukcapil Dumai yang juga pehobi sepeda di Komunitas Sepeda Polygon Indonesia, pria yang baru dilantik sebagai pengurus ISSI pertengahan Oktober lalu meninggal saat masih mengenakan jersey sepeda. Padahal sebelum kejadian tersebut, Haji Wahyu masih kelihatan aktif. Di organisasi ISSI, pria berjenggot ini belakangan sibuk mempersiapkan Kejurda Sport Sepeda Indonesia.

Apa yang dialami oleh Andi maupun Haji Wahyu seharusnya jadi pembelajaran bahwa kasus henti jantung bisa terjadi saat kita berolahraga. Itulah pentingnya, kita  punya bekal pengetahuan pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan.

“Biasanya kalau ada yang kecelakaan, malah pada panik, termasuk para panitianya. Kenapa? karena mereka tidak punya bekal yang cukup untuk menolong korban,” kata dr Muhammad Iqbal dari National Emergency Response di depan para peserta raker Management Race, IdeaRun, Jumat (3/11) di Cibubur.

Dokter yang baru pulang dari Rohingya diundang untuk membekali para team IdeaRun, termasuk para marshall. Ya, marshall selalu menjadi ujung tombak setiap ada gelaran race lari. Mereka berada dekat dengan peserta dan selalu yang pertama dapat laporan bisa terjadi sesuatu terhadap peserta.

Ini yang menjadi alasan, kenapa panitia race lari atau olahraga lain wajib tahu dan paham emergency response, termasuk ketika korban mengalami henti jantung seperti yang dialami Andi.

Menurut dr Iqbal, ada tahapan yang harus dilakukan ketika kita melihat teman yang tiba-tiba jatuh. Yang pertama adalah dicek kesadaranya. Ketika nihil baru bagaimana nafas dan detak jantungnya.

Ketika korban mengalami henti nafas atau henti jantung, kondisi ini yang harus diwaspadai dan perlu penanganan yang benar. Penolong hanya punya waktu tak lebih dari 3 menit untuk membuat nafas buatan dan jantung kembali bekerja yakni lewat Pijat Jantung Saja (PJS) atau yang juga sering disebut Resusitasi Jantung Paru (RJP).

RJP bertujuan untuk mengembalikan fungsi nafas agar darah darah dan oksigen tetap beredar ke seluruh tubuh. Bila penanganan ini terlambat, maka organ tumbuh pun menjadi rusak. Inilah mengapa ketika ada orang yang mengalami henti nafas atau jantung, penanganan harus cepat dan tepat.

Nah, untuk itu, Kemampuan melakukan RPJ ini bukan hanya mutlak bagi para marshall race, tetapi juga kita semua.